
Penempatan persoalan dengan presfektifnya, itulah yang
terlihat pada tulisan-tulisan Eka. Penempatan yang utuh dengan keindahan
sebagai perjalanan rasa estetikanya. Penelusuran yang sikologis filosofis
itulah yang membuat karya Eka penuh dengan ruang-ruang kontemplatif.
Ruang-ruang jendela penuh permenungan. Banyak kata yang tiba-tiba memohok
membuat pembaca mengulangi pengulangan bacanya. Pada tulisan Eka tampak lebih
menekankan pada subtansi tema yang berbicara, maka pembaca akan dibawa pada
imajinasi dari kebenaran yang di gulirkannya. Misalnya pada tulisan “kenangan”
pada subtansi ini kata mentari tidak sebagai simbol yang diam. Kata tersebut di
ungkapkan sebagai titik pijak pembuka kenangannya. Dia berani melakukan
pemikiran silogisme pada logika logis. Kata kaki itu pasti digunakan sebagai
alat pijak, namun mentari tidak begitu kuat digunakan sebagai alat pijak. Tapi
pada Eka kedudukan itu tidak terlalu di pentingkan yang terpenting baginya
bagaimana puisi memiliki ketajaman intensitasnya. Eka tidak mau terjebak dengan
forma-forma kasat mata. Pada itulah dia mencoba menghidupkan tema sebagai titik
pikirannya. Sementara peminjaman kata benda sebagai alat kontruksi dalam
prespektif pikiran dan rasa keindahannya.Salam Kemajuan Kebudyaan dan Peradaban Indonesia
* ) Aktivisme, Seniman dan budayawan “Gerbong Bawah Tanah Nusantara”
